Atasi Kelaparan, PBB Himbau Masyarakat Dunia Konsumsi Kepala Ikan

 thumbnail 

Menghadapi peningkatan permintaan ikan sekaligus kelaparan dunia. PBB menghimbau masyarakat untuk mengolah kepala dan ekor ikan. Selain sehat untuk dikonsumsi, langkah ini dinilai ramah lingkungan.

Walaupun banyak negara Asia yang sudah terbiasa mengonsumsi kepala ikan, masyarakat Amerika Utara dan Eropa masih asing dengan bahan makanan tersebut.

“Kita harus meyakinkan bahwa produk makanan ikan tidak banyak dibuang sia-sia,” tutur Audun Lem selaku kepala Food and Agriculture Organization dari PBB.

Menurut laporan Trends in Food Science and Technology tahun 2011 nelayan Norwegia membuang 220.000 ton bagian ikan yang tidak dipakai ke laut. Hanya mengambil daging ikan untuk fillet dan membuang sisanya dianggap National Marine Fisheries Service menjadi pembuangan sia-sia.

Jogeir Topper selaku tim peneliti FAO menyatakan terdapat banyak pasaran untuk kepala dan tulang ikan pada skala besar. Tulang, otak, dan lemak ikan kaya akan vitamin A, asam lemak omega-3, zat besi zinc, dan kalsium. Selain itu, mengonsumsi bagian ikan lainnya bisa berguna untuk lingkungan karena menurunkan polusi dari pemrosesan produk ikan.

“Dari segi nutrisi, lingkungan, dan ekonomi sangat masuk akal untuk mengolah berbagai macam bagian ikan,” tutur Jogeir kepada The Salt (09/03/2014). Tapi, ia memperingatkan beberapa ikan seperti hiu dan tuna tidak bisa dikonsumsi karena tinggi akan merkuri dan racun.

Salah satu operasi yang menyediakan kepala ikan untuk masyarakat Asia adalah Live Online Seafood. Mereka mengirimkan kepala ikan kod beku dari nelayan di Alaska ke Dutch Harbor. Dari situ, kepala akan dikirimkan ke China dan Korea selatan yang banyak menggunakannya sebagai bahan pembuat sup ikan.

Perusahaan Alaska bernama Alaska Marine Nutrition, mengolah kepala ikan salmon menjadi minyak yang dikemas sebagai suplemen di Amerika Serikat. “Cara ini adalah yang paling efektif untuk memasarkan manfaat nutrisi kepala ikan di Amerika Serikat,” tutur Richard Mullins selaku Co-owner Alaska Marine Nutrition.

sumber: http://food.detik.com

Posting Komentar

0 Komentar