'Potensi' Gangguan Memori di Usia Senja Bisa Dicek dari Bola Mata?


Jakarta, Alzheimer merupakan salah satu jenis gangguan kesehatan yang rentan dialami orang-orang berusia lanjut. Namun karena datangnya seringkali tak terduga, banyak dari mereka yang tak siap dengan keadaan ini.

Berangkat dari keprihatinan tersebut, tim peneliti dari Dundee University dan University of Edinburgh pun berupaya mengembangkan sebuah software khusus untuk mengetahui risiko Alzheimer seseorang, terutama dari pemeriksaan matanya.

Mengapa harus menggunakan mata? Menurut peneliti, risiko Alzheimer seseorang dapat diketahui lewat pembuluh darah yang ada di matanya. Studi-studi sebelumnya menyebutkan perubahan pola pembuluh darah di mata dapat dikaitkan dengan gejala Alzheimer, termasuk risiko penyakit lain seperti stroke dan gangguan jantung.

Software tersebut nantinya dapat menghasilkan foto bola mata seseorang yang diduga terkena Alzheimer dengan hasil gambar high definition (definisi tinggi). Dengan begitu perubahan struktur pembuluh darah di dalam mata dapat diketahui saat itu juga.

Setelah itu dengan software yang sama, peneliti dapat membandingkan kondisi pembuluh darah mata tersebut dengan ribuan riwayat medis pasien Alzheimer yang telah tersimpan di Ninewells Hospital, Dundee untuk memastikan apakah risiko tersebut benar-benar ada atau tidak.

"Kami berharap dengan adanya software ini, kita bisa mengetahui risiko pikun seseorang dengan cara yang sederhana, non invasif sekaligus murah meriah. Ini tentu akan sangat menarik," ungkap salah satu peneliti, Emanuele Trucco, profesor ilmu komputer dari Dundee University seperti dikutip dari BBC, Selasa (28/10/2014).

Software yang dinamai Vampire itu diklaim akan jauh lebih efisien ketimbang si pasien harus melakoni pemeriksaan berulang kali secara manual yang tentu saja menghabiskan banyak waktu dan rentan mengalami kekeliruan, misal human error.

"Tapi dengan software ini peneliti bisa mengukur risiko si pasien berulang kali hanya dengan pengamatan hasil foto, meskipun ribuan jumlahnya. Bahkan mungkin dengan software ini kita dapat menemukan perbedaan antara jenis demensia (kepikunan) yang satu dengan lainnya," imbuh Trucco.

Tak tanggung-tanggung, pihak universitas telah menggelontorkan dana sebesar 1,1 juta poundsterling (sekitar Rp 21 miliar) untuk pengembangan proyek ini. Rencananya proyek Vampire ini dimulai pada bulan April 2015, dan diperkirakan selesai dalam kurun tiga tahun.

sumber : http://health.detik.com

Posting Komentar

0 Komentar