WHAT'S NEW?
Loading...

Pesta Sakura Budaya Lampung


Sakura merupakan salah satu budaya Lampung yang ada di Lampung Barat.  Pesta sakuradilaksanakan masyarakat Lampung Barat sebagai pesta rakyat setiap awal bulan Syawal.
Biasanya sekura dilaksanakan bertepatan dengan Hari Raya Idulfitri. Pesta ini dilaksanakan bergiliran dari satu kampung ke kampung lain.
Dilihat dari segi penokohannya topeng dalam sekura terdiri dari sekura anak, sekura tuha, sekura kesatria, sekura cacat, sakura raksasa, dan sekura binatang. Namun dari enam jenis penokohan tersebut sekura dapat dibagi menjadi dua jenis. Yang pertama disebut sekura betik yang artinya sekura bersih. Yang kedua disebut sekura kamak yang artinya sekura kotor. Sesuai dengan namanya, sekura betik mengenakan kostum yang bersih dan rapi.

Sekura betik khusus diperankan menghanai (laki-laki yang belum beristri). Sekura ini berfungsi sebagai pemeriah dan peramai peserta. Mereka berkeliling pekon (dusun) untuk melihat-lihat dan berjumpa dengan gadis pujaan. Selain itu sekura ini juga berfungsi sebagai pengawal sanak saudara yang menyaksikan atraksi topeng. Mereka membawa senjata pusaka sebagai simbol menjaga gadis atau muli bathin (anak pangeran) yang menyaksikan pesta topeng agar terhindar dari sekura kamak yang jahat. Mereka juga menunjukkan kemewahan dan kekayaan materi yang dapat terlihat dari selendang yang dikenakannya. Secara simbolis banyaknya selendang mengartikan sekura itu adalah meghanai yang baik.

Versi pertama menyebutkan sekuraan sudah ada sejak zaman Hindu. Topeng-topeng yang dikenakan merupakan penjelmaan orang-orang yang dikutuk dewa karena berbuat tidak terpuji. Perbuatan tidak terpuji yang dimaksud adalah tidak mengakui adanya dewa yang patut disembah. Akibatnya, rupa mereka menjadi buruk.
Versi kedua menyebutkan sekuraan berasal dan bermula pada zaman Islam. Alasannya, pelaksanaan acara ini diadakan untuk memeriahkan dan menyambut Hari Raya Idulfitri dan umat yang merayakan Idulfitri adalah umat Islam.

Islam menyebar di Lampung Barat sekitar abad ke-13. Dengan demikian, timbul anggapan sekuraan diadakan pertama kali sekitar abad ke-13. Pendatang yang tidak menjadi sekura dalam tradisi sekuraan pada Hari Raya Idulfitri, sekura khususnya kaum wanita dan anak-anak langsung singgah ke rumah kerabatnya yang disebut dengan tumpak’an. Setibanya di sana mereka disambut tuan rumah dengan senyum ramah dan disambut pula dengan jamuan makan kue lebaran. Pendatang yang ingin menjadi sekura biasanya hanya singgah sebentar sebagai pemberitahuan kepada famili bahwa dia hadir dan datang dalam rangka memeriahkan acara. Sekelompok sekura terlihat apabila calon peserta berganti kostum dan mengenakan topeng serta berbagai atribut lain. Acara sekuraan ini mulai sekitar pukul 09.00 atau bersamaan dengan berdatangannya penduduk dari berbagai pekon. Sekelompok sekura pertama kali muncul adalah sekura yang bertindak sebagai inisiator penyelenggara. Kemudian disusul kelompok-kelompok sekura lain.

Jarak antarkelompok 4–5 meter. Pawai keliling kelompok-kelompok sekura inilah yang disebut sekuraan. Para sekura berkeliling mengikuti rute yang ditentukan, mereka berkelompok-kelompok sesuai dengan jenisnya.
Sekura kecah bergabung sesama sekura kecah dan sekura kamak bergabung sesama sekura kamak. Penonton mulai bermunculan (baik yang baru datang maupun yang lama berada di rumah tumpak’an-nya) jika sekura telah pawai keliling. Wanita dan anak-anak duduk-duduk di beranda rumah milik warga menyaksikan sekuraan disertai senda gurau, sedangkan kaum pria turun ke jalan meskipun hanya sekadar menonton, tidak menjadi sekura.

Para sekura awalnya hanya sekadar berkeliling mengikuti rute dan melihat-lihat saja. Mereka beraksi dan berusaha mencari perhatian apabila melihat banyak penonton yang menyaksikan mereka. Sekura mulai melakukan hal-hal aneh seperti berjingkrak-jingkrak tak tentu arah atau menyanyi melantunkan lagu yang dibuat sekehendak hati si pelantunnya. Ada sekura yang bergerak-gerak seolah-olah menari, tetapi dibuat-buat sehingga memperlihatkan kelucuannya.

Ada juga sekura yang seolah-olah hamil dan mengikuti/mencontoh gerakan ibu hamil, ada pula sekura yang bertingkah layaknya wanita dan dibuat-buat seanggun mungkin dan masih banyak lagi tingkah sekura lainnya. Semua sekura mencuri perhatian penonton dengan tingkahnya. RIN/FM/M-1



Sumber : https://hamkasukau.wordpress.com

0 komentar:

Posting Komentar

Rakanila

Radio Kampus Universitas Lampung adalah sebuah organisasi yang direncanakan menjadi bagian integral dari keluarga besar mahasiswa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) adalah organisasi mahasiswa yang berada di tingkat universitas dan menjalankan kerja-kerja profesional pada bidang-bidang tertentu, Rakanila didirikan dan mulai mengudara hari Rabu, tanggal 19 Januari 2000 pada pukul 18.30 WIB. Tepatnya Gedung Graha Kemahasiswaan lt.II Universitas Lampung. JL. Soemantri Brojonegoro No.1 Gedung Meneng, Bandar Lampung. Rakanila 106,6 FM didirakan oleh tim pendiri yang secara otomatis akan menjadi dewan pendiri Rakanila 106,6 FM. Namun di tahun 2010, frekuensi berubah menjadi 107,9 FM Target pendengar Rakanila yaitu mahasiswa dan pelajar serta masyarakat umum usia 17-23 tahun. Jangkauan Area Gedung Meneng labuhan dalam, kemuning, labuhan ratu, way halim, dan sebagian Way Kandis.