Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW), Neta S Pane menilai Januari 2016 ini tampaknya menjadi bulan duka bagi Polri. 

Alasannya, tahun 2016 baru berjalan 26 hari, tapi sudah ada lima anggota Polri yang tewas. Ironisnya, kelima polisi itu tewas dengan tragis, yakni kepalanya ditebas dengan parang, tertembak, dikeroyok, dan dilindas mobil pelaku kriminal.

"Pada Januari 2016 ini juga ada 13 polisi yang luka-luka. Jumlah ini meningkat tajam jika dibanding Januari 2015. Saat itu hanya ada satu polisi tewas dan satu polisi luka. Di tahun 2016, peristiwa pertama dialami AKBP Martin Mairuhu. Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu Polda Maluku tewas pada 3 Januari 2015, setelah kepalanya ditebas parang di Ambon," kata Neta S Pane, Selasa 

Peristiwa terakhir terjadi pada 24 Januari. Dua anggota Brimob ditemukan tewas di area perkebunan kelapa sawit PT Sumbar Andalas Kencana di Dharmasraya, Sumatera Barat. "Brigadir Nanang Hermansyah dan Brigadir Anasril diduga tewas ditabrak mobil pelaku pencuri kelapa sawit',ujar Neta

Polisi-polisi itu lanjutnya, tewas dan luka saat muncul polemik tentang keberadaan polisi yang bersenjata lengkap ikut dalam penggeledaan yang dilakukan KPK ke Gedung DPR, sementara saat menggerebek sarang narkoba di Berlan Jakarta, polisi tidak menggunakan senjata lengkap.
Terlepas dari polemik ini, Neta minta Polri perlu mencermati banyaknya polisi yang tewas dan luka di Januari 2016. "Apakah mereka menjadi korban akibat tidak patuh pada SOP atau para pelaku kejahatan makin nekat menghabisi polisi atau ada hal lain, seperti kurang terlatihnya para polisi dalam menghadapi situasi darurat," pinta Neta.

Kajian ini menurut Neta, perlu dilakukan agar Polri bisa melakukan antisipasi, sehingga polisi di lapangan lebih siap menghadapi situasi darurat dan tidak gampang menjadi korban tewas maupun luka oleh pelaku kriminal.




Sumber : JPNN

Posting Komentar

0 Komentar