Audit Semua Pesawat TNI AU

Anggota Komisi I DPR RI, Sukamta mendorong agar segera dilakukan investigasi terhadap insiden jatuhnya pesawat latih Super Tucano, di tengah-tengah pemukiman padat, Jalan Laksda Adi Sucipto, Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (10/1).

Investigasi dilakukan menurut Sukamta, untuk mengetahui secara pasti penyebab dari jatuhnya pesawat tempur buatan Brazil ini.

"Apakah karena pesawatnya yang bermasalah atau karena faktor human capacity? Yang paling penting saya mendorong agar dievaluasi kualitas teknologi dan produknya sehingga ke depan kalau membeli alat tempur dengan teknologi tinggi, harus dicari yang lebih bisa diandalkan," kata Sukamta, Kamis (11/2).

Menurut politikus PKS (Sukamta), seperti yang diinformasikan, Super Tucano ini baru dibeli, jadi relatif tergolong belum lama usianya, sembari menyatakan belakangan ini pesawat TNI sering bermasalah, seperti Hercules jatuh di Medan, F16 juga terbakar di Bandara Udara Halim, dan belum lama ini juga pesawat T-50 Golden Eagle jatuh saat atraksi Gebyar Dirgantara di Yogyakarta.

"Karena itu, Saya harapkan segera dilakukan audit terhadap pesawat-pesawat yang dimiliki TNI AU agar jangan sampai ada insiden serupa terjadi lagi di masa datang. Di samping itu juga harus ada peningkatankapasitas pilot sehingga mampu melakukan mitigasi agar siap jika terjadi potensi kecelakaan udara dan mampu menghindari timbulnya korban," pinta anggota DPR dari daerah pemilihan Yogyakarta ini.

Selain itu, Sukamta menyatakan terdapat korban jiwa dari penerbang dan pihak masyarakat.
Karena itu, dia mendorong agar TNI AU memberikan update informasi yang pasti dan jelas kepada publik mengingat terindikasi korban jiwa maupun luka-luka dari masyarakat pada insiden tersebut.
"Keluarga korban yang ditinggal, tentunya perlu dukungan moral, spiritual dan santunan," tegasnya.
Menurut Sekretaris Fraksi PKS ini, jangan sampai insiden jatuhnya pesawat buatan Brazil ini menjatuhkan harga diri bangsa karena sebelumnya hubungan Indonesia dengan Brazil sempat memanas akibat kebijakan pemerintah yang mengeksekusi mati warga negara Brazil bandar narkoba.

"Imbasnya, penyerahan surat kepercayaan Dubes RI untuk Brazil Toto Riyanto ditunda secara mendadak. Bahakan pada Februari 2015, pemerintah juga sempat akan meninjau ulang kontrak pembelian pesawat Super Tucano ini. Ini soal marwah kita sebagai Bangsa Indonesia," pungkasnya.

Sumber : Vivanews

Posting Komentar

0 Komentar