Tekanan darah Naik, Dahlan Iskan Jadi Tahanan Kota


Tekanan darah yang naik membuat status Dahlan, yang sebelumnya ditahan di Rumah Tahanan Kelas I Medaeng, berubah menjadi tahanan kota.
Peter Talaway, Pengacara Dahlan, mengatakan kondisi Dahlan dalam keadaan baik-baik saja. Dia juga menjelaskan bahwa saat ini kondisi Dahlan sehat.

"Pak Dahlan siap diperiksa kejaksaan dan akan datang," terangnya, seperti dilamsir pada laman Cahyamedia.co.id (3/11)
Penyidik Kejaksaan Tinggi Jawa Timur menahan dan menetapkan Dahlan sebagai tersangka pada Kamis lalu. Selama ditahan di Rumah Tahanan Kelas I Surabaya di Medaeng, Waru, Sidoarjo, Dahlan sempat ditempatkan di ruang poliklinik rutan. 
Petugas rutan baru memindahkan Dahlan ke ruang tahanan pada Sabtu sore. Ia menempati ruang tahanan bersama tujuh tahanan korupsi lain.

Kejaksaan Tinggi Jawa Timur kembali memeriksa Dahlan Iskan pada Senin, 7 November 2016, sekitar pukul 09.00 WIB. Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara itu dijadikan tersangka kasus korupsi penjualan aset milik PT Panca Wira Usaha, badan usaha daerah Jawa Timur.
"Kami akan periksa soal tugas dan fungsinya sebagai Direktur PT PWU saat proses pelepasan aset," ucap Romy Arizyanto pelaksana tugas Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi, seperti dilansir pada laman Cahyamedia.co.id
Ini merupakan pemeriksaan lanjutan karena, dalam pemeriksaan Senin, 31 Oktober 2016, tensi darah Dahlan naik. Akibatnya, pemeriksaan terhenti saat jaksa mengajukan delapan pertanyaan kepada Dahlan, yang juga pendiri dan pemilik Grup Jawa Pos.

Romy menambahkan, pemeriksaan Dahlan hari ini sekaligus melaksanakan kewajibannya melapor sebagai tahanan kota.
Korps Adhyaksa menjerat Dahlan dengan Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Korupsi serta Pasal 18, 55, dan 64 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Artinya, jaksa menuduh Dahlan menguntungkan diri sendiri, atau orang lain, atau korporasi, sehingga merugikan keuangan negara secara bersama-sama dan berulang.(*)



Posting Komentar

0 Komentar