Body Shaming

SEIRING majunya teknologi internet dan banyaknya media sosial, tidak bisa dimungkiri segala sesuatu dapat menyebar dan diketahui khalayak dengan cepat dan mudah. Kalau tidak pandai-pandai memilah informasi, bisa-bisa kita termakan informasi menyesatkan bahkan bisa berujung konflik.
Media sosial juga menjadi lahan cyberbullying. Bukan satu-dua, media sosial menjadi media penyampai ujaran kebencian. Ujaran kebencian ini bisa berbentuk hujatan, penghinaan, pencemaran nama baik, provokasi, hingga hoaks alias berita bohong. Ada saja yang bisa menjadi bahan ujaran kebencian ini, mulai dari perbedaan pandangan politik, tradisi masyarakat, perilaku sehari-hari, hingga penampilan fisik seseorang.

Tingginya tingkat cyberbullying di Indonesia sampai-sampai banyak istilah yang bermunculan untuk menggambarkan sikap pelaku seperti nyinyir dan julid. Untuk menekan maraknya perlakuan cyberbullying, pemerintah pun membuat undang-undang tentang body shaming.  Body shaming merupakan perbuatan mencela orang lain bahkan diri sendiri karena penampilan fisiknya. Walaupun hanya bermaksud bercanda, komentar mengenai ukuran, bentuk, dan penampilan kita bukan seharusnya untuk dicela.

Bagaimanapun bentuk fisik kita harus dihargai, karena itu merupakan ciptaan Tuhan. Apalagi, tampilan fisik hanyalah pandangan subjektif seseorang terhadap orang lain. Bisa jadi, satu orang mengatakan si A cantik, tetapi yang lain mengatakan tidak. Atau, si B mengatakan mata si A bagus, tetapi si C mengatakan hidungnya yang bagus.

Karena itulah, tidak seharusnya tampilan fisik seseorang menjadi bahan candaaan, apalagi sampai menimbulkan komentar julid yang berdampak psikologi pada si penerima komen. Terlebih, pada kaum perempuan yang umumnya sudah berumur dan memiliki anak, ukuran bodi bisa melar tak terkira dan tak terkendali.

Sebelum adanya UU body shaming, beberapa teman sebaya pernah membuat aturan, "Tidak boleh komentar ukuran tubuh kalau sedang kumpul-kumpul. Bagi yang melanggar, didenda sejumlah uang." Segitu sensitifnya kan kalau urusan penampilan dan ukuran tubuh. Adanya UU body shaming diharapkan bisa mengurangi cyberbullying yang menyangkut soal penghinaan tampilan fisik seseorang. Meski niatnya bercanda, kita harus berhati-hati saat komen di media sosial. Kalau yang diberi komentar tidak suka, bisa saja dia melapor ke polisi.
 
Kita pun bisa dijerat Pasal 27 Ayat (3) jo Pasal 45 Ayat (3) UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik sebagaimana telah diubah oleh UU No. 19 Tahun 2016. Ancaman hukumannya bisa penjara 6 tahun atau denda paling banyak Rp1 miliar, lo! Karena itu, kita harus bisa kendalikan jempol kita untuk tidak menulis komentar yang aneh-aneh ya, guys! Daripada ujung-ujungnya si jempol mengantarkan kita ke jeruji besi. Semoga UU body shaming juga bisa menjadikan Indonesia bebas cyberbullying.


Sumber: Lampost.co
Laporan: Agung Hidayat


Posting Komentar

0 Komentar