WHAT'S NEW?
Loading...

Mengenal Sejarah Bulan Ibu Sedunia: Sebuah Perjuangan Para Ibu dalam mencapai Kesetaraan Gender


Setiap tanggal 22 Desember Indonesia memperingati hari ibu, pada hari itu tidak jarang kita menemukan segala bentuk pernak-pernik dan bingkisan yang menyimbolkan cinta kasih terhadap ibu. Baik sosial media, maupun sampai pusat perbelanjaan turut meramaikan hari ibu tersebut. Saking ramainya, bahkan cuitan doa maupun ucapan selamat hari ibu nasional di media sosial seperti twitter pada tahun 2016 lalu sempat menjadi world trending topic (trending topik dunia). Pusat perbelanjaan pun tidak mau kalah dengan banyaknya promo yang tertera khusus di hari ibu.

 



Namun, tahukah anda bahwa perayaan hari ibu pertama di dunia jatuh pada bulan Mei? Lebih tepatnya pada hari minggu kedua setiap bulan Mei. Dengan kata lain, bahwa hari ibu internasional tepat jatuh pada bulan ini. Walaupun sekarang kita sudah berada pada penghujung akhir bulai Mei, alangkah baiknya jika kita tutup bulan Mei kita dengan pengetahuan sejarah yang menjadi kesan di bulan ini. 


Sejarah Pembentukan Bulan Ibu Internasional
Perayaan untuk ibu pertama kali sebenarnya sudah dilakukan sejak zaman Yunani Kuno. Dilansir dari History.com pada masa itu, sebagian daerah di Eropa Timur dan Tengah merayakan hari ibu dibulan Maret dalam bentuk perayaan musim bunga sebagai penghormatan dan bentuk pemujaan bagi Dewi Rhea, ibu para dewa dalam mitologi Yunani. Sejarah yang jelas mengenai hari ibu ada pada tahun 1600 di Inggris dan sebagian wilayah Eropa dimana adanya tradisi besar yang dinamakan “Mothering Sunday”. Perayaan ini 

dilakukan pada hari minggu keempat periode Lent dalam kalender liturgi (peribadatan kristiani).


Pada perayaan ini, para pekerja semuanya diliburkan untuk kembali ke kampung halamannya, melakukan pelayanan terhadap gereja asalnya/gereja induknya yang disebut “Mother Chruch”, melakukan pengabdian kepada Bunda serta proses pembaptisan di gereja induk masing-masing. Karena diliburkannya aktivitas bekerja, seperti dilansir di The Risky Regencies, perayaan ini akhirnya biasa juga disebut “Refreshment Sunday” (minggu penyegaran), atau “Sunday of the Five Loaves” (minggu lima roti) karena dalam pelaksanaannya para ibu akan dihadiahkan Mothering Cake.
Namun, diantara kedua perayaan tersebut, perayaan hari ibu secara internasional dan terlembaga baru muncul pada saat terjadinya perang sipil di Amerika Serikat. Pada tahun 1861, Terpilihlah Abraham Lincoln sebagai Presiden Amerika Serikat ke-16. Saat itu, ideologi Amerika Serikat terpecah menjadi dua antara negara bagian utara dan selatan. Dilansir dari elsaonline, Jika di utara terjadi industrialisasi dan liberalisme, namun di selatan banyak dari mereka yang masih mempertahankan perekonomian agraria dan perbudakan dengan mempekerjakan para budak kulit hitam. Mereka bekerja di ladang-ladang pertanian untuk para petani kaya. Negara-negara bagian yang ada di selatan seperti South Carolina, Mississippi, Florida, Alabama, Georgia, Louisiana, dan Texas ada di blok yang hendak menyatukan kekuatan “pro-perbudakan” itu. Menyusul bergabung kemudian adalah Virginia, Arkansas, Tennessee, dan North Carolina. Mereka kemudian membuat ancang-ancang pemisahan dari Uni Amerika atau Amerika Serikat  dengan membentuk “Konfederasi” 8 Pebruari 1861, dan negara konfederasi (confederate state) resmi didirikan di bawah kendali Jefferson Davis. Terjadilah pertempuran antara pemerintahan Uni dan Konfederasi. Banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak. Lebih dari 600.000 nyawa melayang dalam perang yang berlangsung dari 1861-1865 itu.
Disaat yang sama, ada seorang perempuan kelahiran New York,  bernama Julia Ward Howe ikut merawat para tentara yang terluka, bekerja dengan para janda dari kedua belah pihak.  Selain merawat, tak henti-hentinya Julia mengingatkan imbas dari perang itu kepada kaum perempuan dan menghendaki agar semua perempuan Amerika bersatu membentuk gerakan perlawanan terhadap perang saudara karena elit politik semata. Julia juga menulis puisi ” The Battle Hymn of The Republic” (TBHoTR), yang kemudian dimuat dalam halaman depan Majalah Bulanan Atlantik edisi Pebruari 1862 dan menjadi puisi patriotik yang cukup populer di kalangan warga Amerika pada saat itu.
Disisi lain, Pada tahun 1868 seorang aktivis para ibu Amerika Serikat, Ann Jarvis menyelenggarakan "Hari Persahabatan Ibu", di mana para ibu berkumpul dengan mantan tentara Union dan Konfederasi untuk mempromosikan rekonsiliasi Amerika Serikat. Serta mendirikan "Klub Para Ibu Pekerja (Mothers’ Day Work Clubs)" untuk mengajari wanita setempat cara merawat anak-anak mereka dengan benar, dimana Klub-klub ini kemudian menjadi kekuatan pemersatu di wilayah negara yang masih terbagi selama Perang Sipil.
Pada tahun 1870 atau lima tahun sesudah perang, Julia menulis “Proklamasi Hari Ibu (Mother’s Day Proclamation)” yaitu seruan aksi yang meminta para ibu untuk bersatu dalam mempromosikan perdamaian dunia.  Setelah pertemuannya dengan Ann Jarvis saat perang sipil, pada tahun 1873 mereka bersama-sama mengkampanyekan “Mother’s Day for Peace” untuk dirayakan setiap 2 Juni. Mereka juga mengajak kaum perempuan untuk membangun semangat pacifism dan menentang segala bentuk eksploitasi politik.


Representasi Perempuan dan Bentuk Pergerakan Mencapai Kesetaraan Gender
Menurut David P. Barash, seorang ahli studi perdamaian, dalam bukunya yang berjudul Approaches to Peace (2000) didalam pencapaian suatu kemerdekaan maupun kebebasan, ada dua cara yang dapat dilakukan, yaitu dengan violent act (kekerasan, milter, intervensi, dll) dan non-violent act seperti gerakan/movement, rapat umum, kampanye, dsb. Dari sini, kita bisa melihat bahwa ada dua pergeseran makna yang tercipta dari konstruksi sosial. Aksi pertama adalah kampanye yang Julia, Ann, dan Anna lakukan. Kampanye ini adalah sebuah contoh implementasi dari runtuhnya opini bahwa kekuatan militer adalah kekuatan paling ampuh dalam menekan suatu aktor (baik negara maupun individu) untuk memperoleh tujuan yang diinginkan. Kedua, aksi-aksi non-kekerasan yang dapat mempengaruhi dunia ini, ternyata dapat dilakukan oleh perempuan, dimana sebelumnya perempuan sering dianggap makhluk yang lemah dan kerap kali mengalami diskriminasi. Bisa dilihat ketika awal perjuangannya Ann dan Julia ada di dalam kondisi dimana adanya eksploitasi politik oleh pria dan pelarangan perempuan dalam memberikan suara dan hak pilih.
Menurut Ziauddin Sardar (1999) dalam Cultural Studies (Studi Budaya) mempelajari suatu budaya adalah dalam semua bentuknya yang kompleks serta menganalisis konteks sosial dan politik di dalamnya. Bisa kita lihat dalam Feminisme dan gerakan kesetaraan gender mengakar dalam sejarah rasisme dan imperialisme. Tradisi budaya bukanlah salah satu peristiwa bebas nilai tetapi berkomitmen pada rekonstruksi sosial dan keterlibatan politik kritis. Pengakuan, aksi damai, bentuk gerakan sosial, dan lain-lain sejatinya bertujuan untuk memahami dan mengubah struktur dominasi di dalam politik tersebut. Oleh karena itu, aksi yang dilakukan Julia, Ann, dan Anna dalam mendapatkan perayaan hari untuk para ibu sejatinya bukan hanya menuntut ambisi perempuan untuk mendapatkan hak nya. Tetapi, lebih kepada kesetaraan gender yang dilakukan berdasarkan rasa tanggung jawab bersama antara perempuan dan laki-laki sebagai manusia dalam mencapai rekonstruksi sosial melawan struktur dominasi yang terjadi di dunia.
 

Penulis : Regiana Revilia 

Rakanila

Radio Kampus Universitas Lampung adalah sebuah organisasi yang direncanakan menjadi bagian integral dari keluarga besar mahasiswa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) adalah organisasi mahasiswa yang berada di tingkat universitas dan menjalankan kerja-kerja profesional pada bidang-bidang tertentu, Rakanila didirikan dan mulai mengudara hari Rabu, tanggal 19 Januari 2000 pada pukul 18.30 WIB. Tepatnya Gedung Graha Kemahasiswaan lt.II Universitas Lampung. JL. Soemantri Brojonegoro No.1 Gedung Meneng, Bandar Lampung. Rakanila 106,6 FM didirakan oleh tim pendiri yang secara otomatis akan menjadi dewan pendiri Rakanila 106,6 FM. Namun di tahun 2010, frekuensi berubah menjadi 107,9 FM Target pendengar Rakanila yaitu mahasiswa dan pelajar serta masyarakat umum usia 17-23 tahun. Jangkauan Area Gedung Meneng labuhan dalam, kemuning, labuhan ratu, way halim, dan sebagian Way Kandis.