Berkunjung ke Pulau Pisang, 'Surganya' Pesisir Barat, Lampung






Lampung Geh, Pesisir Barat - Pulau Pisang, eksotisme pantai dan kearifan lokal budayanya memang tidak boleh dilewatkan. Inilah pesona Pulau Pisang, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung. Pulau Pisang merupakan nama pulau sekaligus nama salah satu kecamatan di Kabupaten Pesisir Barat. Untuk menuju ke Pulau Pisang dapat ditempuh dengan perjalanan darat dari Kota Bandar Lampung menuju Kabupaten Pesisir Barat selama 6 jam melalui Jalan Lintas Barat (Jalinbar) Sumatera. 

Setelah sampai di Kabupaten Pesisir Barat, untuk menuju ke Pulau Pisang menempuh dengan jalur laut dengan perahu. Pengunjung dapat menyeberang melalui Dermaga Kuala Stabas dan Dermaga Tembakak dengan biaya Rp 15 ribu sampai Rp 25 ribu. Kali ini Lampung Geh menyeberang melalui Dermaga Tembakak.

Penyeberangan dari Dermaga Tembakak menuju ke Pulau Pisang dapat ditempuh dalam waktu sekitar 15 menit. Perahu yang digunakan adalah perahu kayu tradisional bermesin. Beruntung, kali ini ombak-ombak di lautan Samudera Hindia sedang bersahabat, gelombang relatif tenang, sehingga perahu melaju dengan aman.

Dalam perjalanan penyeberangan ke Pulau Pisang, kami dikejutkan dengan atraksi kawanan lumba-lumba. Tanpa menunggu lama, nakhoda kapal langsung mengarahkan perahu kami mendekati kawanan lumba-lumba tersebut. Bukannya takut, lumba-lumba justru seperti menyambut kami, terlihat jelas ada beberapa lumba-lumba berenang di samping kiri mengiringi perahu kami. Sungguh menakjubkan, karena tidak setiap penyeberangan ke Pulau Pisang dapat menemui kawanan lumba-lumba, dan kami termasuk beruntung. 

Setelah sekitar 15 menit penyeberangan, akhirnya tiba juga di dermaga Pulau Pisang. Begitu menginjakkan kaki di Pulau Pisang, suasana pantai dan alamnya langsung menyambut. Tanpa menunggu lama, kami pun bergegas menuju UPTD Dinas Pariwisata Pesisir Barat yang ada di Kecamatan Pulau Pisang sebagai pusat informasi bagi wisatawan.

Dalam perjalanan, kami disambut oleh keunikan bangunan rumah adat Lampung yang usianya sudah puluhan atau mungkin ratusan tahun. Ya, nampak dari fisik, kayu, dan ornamen bangunan yang cukup eksotis namun kental dengan corak rumah adat Lampung. 

Beberapa bangunan seperti puskesmas, kantor kecamatan juga masih menggunakan bangunan lama yang unik dan bersejarah. Suasana tenang khas perkampungan, keramahan masyarakat setempat juga menyapa kami yang baru saja menginjakkan kaki di pulau ini. 

Setelah berjalan menyusuri perkampungan, kami sampai di kantor UPTD Dinas Pariwisata Kabupaten Pesisir Barat, dan di dalam kantor tersebut terdapat banyak sepeda. Menurut salah satu pegawai, jumlah sepeda yaitu 34 unit, terdiri dari sepeda single dan double atau dua seat. Dan sepeda ini nantinya akan disewakan kepada wisatawan untuk mengelilingi Pulau Pisang, karena jika ditempuh dengan berjalan kaki, akan memakan waktu yang cukup lama dan pastinya menguras energi.

Kami pun sedikit berbincang-bincang sembari memilih sepeda. Lalu kami pun bergegas menuju pantai dermaga Pulau Pisang dengan menggunakan sepeda atau gowes, jadi tidak hanya berwisata, tapi bisa sekaligus olahraga, sehat bukan?

Sesampainya di pantai, hamparan pasir putih luas dibingkai lautan biru kehijauan, serta perahu-perahu nelayan bersandar, sungguh pemandangan yang tidak boleh dilewatkan. Dan memang tidak berlebihan jika Pulau Pisang disebut sebagai salah satu surganya Pesisir Barat. Tentunya pemandangan ini juga harus diabadikan. Selain itu, para wisatawan juga dapat berfoto di tugu bertuliskan Pulau Pisang Kabupaten Pesisir Barat.

Dari pantai, kami diajak berkeliling perkampungan dan menyambangi salah satu bangunan bersejarah, yaitu SD Negeri Pasar Pulau Pisang. Berdasarkan informasi dari masyarakat setempat, bangunan sekolah ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Selain terlihat dari bentuk bangunan, hal ini juga dikuatkan dengan ditemukannya tulisan 1892 di salah satu bagian bangunan. Bangunan ini menjadi saksi bisu sejarah di Pulau Pisang.

Kami pun melanjutkan perjalanan dengan bersepeda mengelilingi pulau. Melewati barisan pohon kelapa, melewati tanjakan dan turunan. Tapi jangan khawatir, meskipun jalan yang dilalui ada tanjakan dan turunan, jalan di pulau ini sudah dicor beton, jadi cukup mudah dilewati. Setelah melewati perkebunan, hutan, dan tanjakan, saat menurun kami disambut pemandangan laut lepas dengan ombak berbuih putih merayap mendekati bibir pantai. Wah lagi-lagi, pulau ini menyimpan keindahan alam yang masih asri.

Selain pantai, juga terdapat bebatuan alam yang terkikis ombak lautan, sehingga membentuk ornamen yang cukup unik. Pantai ini disebut Pantai Batu Gughing, karena memang terdapat batuan-batuan yang berukuran cukup besar. Pantai ini memang belum banyak tersentuh oleh manusia, jadi kealamaiannya masih sangat kental, yang tentunya harus kita jaga bersama agar dapat dinikmati oleh generasi selanjutnya. (*)
Laporan : Marantika Ayu Lestari

Posting Komentar

0 Komentar